Beberapa hari telah berlalu sejak insiden dengan Mona. Di sebuah rumah makan kecil di sudut kota, Lynx dan Leena duduk di bangku pojok yang remang. Dinding logam tempat itu dipenuhi noda minyak dan aroma pedas dari masakan khas planet itu memenuhi udara. Namun tak satu pun dari mereka tampak menikmati makanannya.

Leena mengaduk makanannya dengan malas, lalu mendesah kesal. "Sudah berapa tempat kita datangi hari ini? Lima? Enam?"

Lynx menyandarkan punggung pada dinding, pandangannya kosong. "Tujuh," sahutnya pelan. "Dan hasilnya sama. Setiap kali menyebut nama The Circuit, orang-orang langsung menutup mulut atau kabur."

Leena memukul sendoknya ke meja, membuat suara dentang yang tajam. "Kenapa mereka semua begitu takut? Seolah menyebut nama itu saja bisa membuat mereka hilang di malam hari."

Lynx mengangguk. "Aku juga sudah mencoba mendengarkan… semua suara, percakapan tersembunyi, bisikan di lorong-lorong. Tapi… tak ada. Bahkan satu pun tak berani membicarakan The Circuit secara diam-diam."

Leena menyipitkan mata. "Berarti mereka mengendalikan lebih banyak dari yang kita duga. Ini bukan cuma sindikat kriminal biasa. Ini seperti bayangan… menyebar tanpa bisa dilihat."

"Iya betul, dan sekarang yang aku dengar justru kebalikan dari apa yang kita cari. Bukannya The Circuit atau arena pertarungan kematian yang kita dengar tetapi justru nama Plasura yang ramai dibicarakan penduduk disini belakangan ini." Kata Leena sambil menggelengkan kepala seolah tidak mempercayai berita yang didengarnya. "Mereka mengatakan sosok misterius menggunakan pakaian dan helm yang menutupi identitasnya, membantu para korban penculikan, menumpas kelompok kriminal kecil, dan menyelamatkan penduduk dari pemerasan geng lokal. Tak ada yang tahu siapa dia."

Leena melirik Lynx dengan senyum samar. "Itu semua karena kamu, tahu?"

Lynx mengangkat bahu. "Aku hanya tidak tahan melihat orang diperlakukan seperti sampah."

Lynx lalu tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Selain itu, aku juga sebenarnya tidak sengaja menyelamatkan mereka, karena niatku sebenarnya mencari informasi melalui para kriminal tersebut, dan ternyata hal itu justru terlihat seolah aku menumpas para kriminal dan menyelamatkan orang-orang di tempat ini."

"Apa kamu tidak mencoba memaksa para kriminal itu untuk memberi tahu kita petunjuk tentang keberadaan The Circuit atau arena kematian?" tanya Leena sambil menahan tawanya melihat ekspresi Lynx yang terlihat seolah tidak berdaya.

Lynx menghela napasnya. "Aku sudah mencobanya. Tapi mereka terlalu kecil. Cuma pion-pion kelas bawah yang bahkan tak pernah bertemu langsung dengan orang dari dalam The Circuit. Mereka hanya tahu namanya... selebihnya kosong."

Hening sejenak.

"Kita juga belum temukan teknisi yang bisa memperbaiki mesin dimensi milik Lala," ucap Lynx, nyaris seperti gumaman.

Leena mengangguk perlahan. "Aku benar-benar pusing dengan ini semua. Semua bilang hal yang sama. Bahan utama untuk membuat komponen itu menggunakan bijih besi yang katanya sangat langka. Para teknisi itu menyebutnya bijih besi Rundaril. Bijih besi ini memiliki titik lebur yang lebih rendah, lebih lunak waktu ditempa dibanding bijih biasa, tapi punya karakteristik yang unik. Lebih kuat, ringan, dan bisa mengalirkan energi tanpa pecah. Cuma beberapa planet inti yang punya dalam jumlah terbatas. Tanpa bahan tersebut, komponen lain yang digunakan tidak akan berfungsi karena meski terlihat sama tetapi memiliki cara kerja yang berbeda."

Setelah menghela napas dengan berat, Leena menoleh kepada Lynx. "Apa kita sebaiknya kembali ke kota Zhurong? Bantu yang lain cari suku Surya? "

Lynx menggeleng pelan. "Kalau kita kembali ke sana, siapa yang akan mencari Lala? Kita sudah sepakat berbagi tugas. Kita tetap di sini dan lanjutkan pencarian. Mereka akan menghubungi kita jika ada informasi penting atau menghadapi masalah yang tidak bisa mereka atasi."

Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat, membawa nampan logam yang bergetar halus. Ia meletakkan sebuah gelas berisi cairan berwarna ungu cerah di depan Leena, lalu, dengan sedikit ragu, menyodorkan sebuah kotak kecil bersegel.

"Ini… dititipkan untuk kalian," ucapnya singkat, lalu segera mundur.

Leena mengernyit, mengambil kotak itu dengan hati-hati. Ukurannya kecil hanya beberapa centimeter, permukaannya terlihat halus, berbahan logam tipis berkilau seperti lembaran emas cair. Di tengahnya tercetak simbol tengkorak bermahkota, dikelilingi ornamen tajam berwarna hitam pekat. Tidak ada nama pengirim.

Lynx mencegah Leena yang ingin membukanya, lalu menggunakan mata langitnya untuk memeriksa isi didalam kotak. Dia tidak ingin sesuatu yang berbahaya berada didalamnya dan membahayakan mereka.

Setelah memastikan tidak ada yang aneh, Lynx mengambilnya kotak kecil tersebut dari Leena dan membuka segel dengan gerakan cepat. Di dalamnya, sebuah proyektor mini otomatis menyala, menampilkan hologram melayang dengan tulisan berkilau keemasan membentuk gerakan seperti aliran tinta hidup.

Leena membaca bersama Lynx, suaranya pelan namun tegang.

"Dengan kehormatan, kalian diundang untuk mengikuti Pertarungan Kehidupan dan Kematian, satu malam, satu pemenang. Hadiah utama, lima juta krun, kontrak elit, dan… satu 'barang spesial' dari koleksi pribadi pemilik arena...."

Lynx menyipitkan mata, melihat tampilan yang ada di layar didepannya. Terdapat sebuah peta yang menunjukkan sebuah lokasi berbentuk bangunan dengan titik berkedip, juga terdapat angka yang bergerak mundur bertuliskan waktu pendaftaran tutup. Di bawah daftar hadiah, terpampang sebuah gambar yang langsung membuat napas mereka tertahan. Wajah Isha. Dalam kondisi tertidur atau ditahan, tidak jelas, tapi cukup untuk membuat darah mereka mendidih.

"Barang spesial…" bisik Leena, nada suaranya berubah tajam mengandung kemarahan. "Mereka jadikan Isha… hadiah?!"

Lynx mengepal tangannya, suara denting ringan terdengar dari tulang-tulang jarinya. "Berani-beraninya…"

Tanpa berkata banyak lagi, Leena langsung mendekati pelayan yang tadi mengantarkan kotak kepada mereka. "Siapa yang memberimu kotak ini?!"

Pelayan itu terkejut, matanya membelalak. "Aku… aku cuma disuruh! Ada seseorang menitipkan itu di dapur, dan bilang untuk diberikan ke meja kalian! Setelah memberikan kotak dan upah, orang tersebut langsung pergi. Aku tidak tahu siapa dia, sungguh!"

"Bagaimana ciri-ciri orangnya?" tanya Lynx sambil memberikan beberapa keping uang krun, koin pipih berwarna perak kebiruan dengan ukiran angka dan simbol galaksi. Mata uang universal yang berlaku di hampir semua planet di sektor ini, yang didapatkannya saat menyerang para kriminal. Leena menyebutnya merampok dari para perampok.

Dengan wajah cerah, pelayan tersebut menceritakan apa yang dia ketahui, "Orang tersebut menggunakan penutup wajah dan jubah hitam. Kami tidak melihat ciri-ciri khusus darinya. Selain itu ada banyak tamu yang berpenampilan seperti mereka... Oh iya dia seorang wanita."

"Wanita?" Lynx menatapnya tajam beberapa detik, lalu berbalik. "Kita pergi."

***

Distrik yang ditunjukkan pada peta terletak cukup jauh dari pusat kota. Namun bagi Lynx dan Leena, jarak tersebut dapat ditempuhnya dalam sekejap mata. Bagi orang yang tidak memahami kekuatan mereka, akan terlihat seolah mereka bisa menghilang atau berpindah tempat dalam sekejap.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah bangunan tua seperti hanggar bekas yang dipasangi penjaga dengan seragam hitam tanpa lencana.

Lynx dan Leena menyelinap dan mencari tempat yang aman serta tidak terdeteksi oleh mereka. Lynx menggunakan mata langitnya untuk melihat lebih jelas didalam bangunan. Anehnya, Lynx melihat ruangan yang ada di tempat itu meski luas namun tidak memungkinkan diadakan pertandingan.

"Mungkinkah kita salah membacanya?"

Lynx membuka kotak tersebut lagi dan melihat titik yang di tunjukkan pada bangunan memiliki bentuk yang sama dengan yang di datanginya. Sebelum ke tempat ini, Lynx dan Leena sudah berusaha mencari sosok yang diceritakan pelayan, namun ada banyak jumlah penduduk yang berpenampilan sama sehingga mereka kehilangan jejak.

Lynx dan Leena memperhatikan kembali ke sekitarnya. Terlihat orang-orang berlalu-lalang, membawa perlengkapan seperti perlengkapan dekorasi, panel kontrol, dan berbagai peralatan.

Setelah mempelajari situasi dan kondisi di sekitar bangunan yang tidak menunjukkan informasi yang mereka butuhkan, terpaksa Lynx dan Leena keluar dari persembunyian.

Lynx menghampiri salah satu dari mereka, seorang pria kurus berambut kelabu. "Siapa yang memerintahkan kalian? Dimana pimpinan kalian?"

Pria itu menoleh, tampak bingung dan juga khawatir. "Siapa kalian? Jangan ganggu tugas kami."

